Melepaskan?
Aku dan dia memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Kami hanya diberi waktu satu tahun untuk saling memahami seberapa rumit dan mudahnya mencintai. Tapi sepertinya, diantara kami berdua tidak ada sama sekali yang mengerti apa itu arti cinta. Aku dari keluarga yang penuh duka, sedangkan dirinya? Aku tidak tahu jelas pastinya. Dari lubuk hatiku, aku senang sempat jatuh hati pada manusia seunik dirinya. Lesung pipi yang membuatnya semakin tampan rupawan. Senyuman yang selalu ia tunjukkan bukan hanya untuk manusia yang ia rasa dekat dengannya, tapi untuk siapapun yang menurutnya berhak mendapatkan sedikit kehangatan dari dinginnya dunia ini. Aku bersyukur sempat menjadi salah satu manusia yang melihat ia tersenyum lepas, tertawa, menangis, bahagia, cemburu, bahkan marah sekalipun. Dia layaknya pria biasa, merokok meski sesekali, pulang larut malam dan bertualang kemanapun yang ia rasa akan memuaskan dahaga keingintahuannya. Dan ya, aku menyukainya. Entah apa alasan pastinya. Yang ...